Offtaker mampu memonitor proses budidaya dalam aplikasi Agree dari bahan diinput petani.

REPUBLIKA. CO. ID,   BANDUNG — Agree, permintaan agregator agribisnis kreasi Digital Next Business (DXB) PT Telkom, melanjutkan perluasan layanannya ke sentra pertanian Megamendung, Kabupaten Bogor. Hal ini dilakukan melalui kerja cocok dengan Kementerian Koordinator Tempat Perekonomian, Pemkab Bogor, IPB, BNI, Mitra Bumdes, Gemuk Indonesia Pangan (PIP), dan Bank BJB.

Menurut Squad Leader Agree, Kasiono, pihaknya menyediakan layanan dalam mendata petani beserta offtaker (pembeli), kemudian menghubungkan dengan perbankan guna peroleh dukungan pemodalan. Offtaker seperti BumDES & Pupuk Indonesia bukan sekedar membeli hasil tani, akan tetapi sekaligus mendampingi petani sebab proses pra tanam maka pasca panen. Termasuk, menyediakan sarana produksi pertanian pangan.

“Offtaker bisa memonitor proses budidaya pada aplikasi Agree berdasarkan bukti yang diinput oleh petani, seperti kapan tanam, surat kasih pupuk, kapan panen, menyerap hasil panen dan banyak lagi, ” perkataan Kasiono dalam siaran persnya, Kamis (20/5).

Dengan mengusung tema Connecting The Dots, platform Agree ini memungkinkan pemangku relevansi seperti petani, offtaker , pasar, penyedia saprotan, pembeli, pemodal, dan seterusnya untuk dapat saling terhubung melalui platform digital.  

Era ini, Agree sudah mempunyai beberapa fitur kemitraan dengan perusahaan pertanian, permodalan, pemasaran dan peningkatan wawasan ( agree knowledge ) yang ke depannya akan dilengkapi pendukung produktivitas dan kualitas guna menciptakan satu data pertanian.  

“Bahkan, saat ini Agree sudah berhasil diadopt di berbagai sentra pertanian yang tersebar di berbagai wilayah yang ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan lain-lain, ” katanya.

Wakil Bupati Kabupaten Bogor Iwan Setiawan menyatakan kesiapannya mendukung Agree. Bahkan, beberapa dana desa bisa buat mengembangkan Bumdes guna mendampingi dan membeli hasil pertanian sebagai bagian dari digitalisasi ekosistem tersebut.

Sementara menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Asisten Deputi Keuangan Inklusif dan Keuangan Syariah, Erdiriyo, sinergi serta kolaborasi program melalui digitalisasi pada ekosistem pertanian, dapat mengangkat harkat hidup dan tingkat ekonomi petani beserta memudahkan pengembangan layanan pertanian secara terpadu.

“Data petani, data lahan, data komoditas, data pemupukan, data prediksi panen serta lain-lain yang terintegrasi utama platform memudahkan Perbankan menyalurkan pemodalan dan BumDES, Gemuk Indonesia pangan  memonitoring dan menyiapkan pembelian hasil pengetaman. Termasuk keterlibatan penyuluh pertanian mendampingi proses dari pra tanam hingga paska panen, ” papar Erdiriyo.