Kebebasan berpendapat diminta tak dimanfaatkan dengan salah lazim.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA – Merespons maraknya aksi dan provokasi yang berpotensi mengganggu ketertiban umum serta memotong alumni dari berbagai Perguruan Tinggi maupun SLTA se-Indonesia sepakat membentuk medan Alumni Untuk Indonesia. Penanggung jawab kegiatan, Bilmar Sitanggang menudunh kebebasan berserikat dan berkumpul, menyampaikan pikiran indah secara lisan maupun tulisan dipakai oleh kelompok-kelompok tertentu sebagai dasar hak.

Menurutnya, kegiatan provokasi-provokasi dilakukan tanpa mengindahkan kewajiban hukum untuk mentaati susunan perundang-undangan yang berlaku. Bahkan kemandirian berpendapat seringkali dimanfaatkan sebagai instrumen propaganda untuk merongrong kewibawaan Negeri sebagai unsur kedaulatan Negara Kebulatan Republik Indonesia (NKRI).  

“Banyaknya tindakan menghasut yang dapat membangkitkan kemarahan umum, dilatarbelakangi oleh sikap intoleran serta paham radikal. Intoleransi dan radikalisme dalam bentuk ujaran kebencian yang dilakukan secara masif, apabila tak segera dihentikan, maka pada belakangan akan mengganggu stabilitas politik dan keamanan nasional, ” ungkapnya di GBK Senayan, Jakarta, Senin (21/12).  

Intoleransi dan radikalisme yang berakumulasi, kata dia, berpotensi menumbuhkan paham terorisme dan secara ekstrim. Ini pun dicemaskan bisa memicu aksi teror yang meresahkan masyarakat serta menimbulkan ketidakpercayaan umum terhadap pemerintah.

“Pemerintah dan segenap rakyat Indonesia saat itu tengah dihadapkan pada berbagai kasus yang harus segera ditangani, termasuk namun tidak terbatas pada masalah krisis kesehatan masyarakat akibat pandemi Covid-19, pemulihan ekonomi nasional, serta penegakan hukum dan pemberantasan manipulasi. Menyikapi hal itu, kami Alumni Untuk Indonesia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu memenuhi seruan ibu pertiwi, ” ujar Pelaksana Lapangan, Denni Fajar.  

Maka dari itu, Alumni Untuk Indonesia pun membuktikan sikap tegasnya. “Pertama, kami mau tetap menjaga dan mempertahankan aliran Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Kedua, kami mendatangi segala bentuk sikap, tindakan dan paham intoleransi, radikalisme dan terorisme, ” kata dia membacakan aksi Alumni Untuk Indonesia.

Ketiga, pihak mendukung Polri dengan dibantu oleh TNI bertindak tegas serta terukur terhadap kelompok-kelompok intoleran, radikalis, dan teroris termasuk pihak-pihak dengan terafiliasi. Keempat, masaih kata Denni, pihaknya mendesak pemerintah untuk bersikap tegas dalam menegakkan hukum & menerapkan aturan pelarangan terhadap perilaku, tindakan dan paham intoleransi, radikalisme dan terorisme di semua lembaga. Serta, kelompok masyarakat agar tak berkembang dan harus dihentikan untuk memberikan rasa aman dan menangani setiap warga negara dari rasa ketakutan.

“Kami mendesak pemerintah atau DPR untuk membuat Peraturan atau Peraturan Pemerintah Pengganti Peraturan yang mengatur persoalan toleransi & deradikalisasi agar memperkuat peraturan perundang-undangan yang mampu menanggulangi gejala intoleransi dan radikalisme, ” kata dia.

Ia melanjutkan, pihaknya menodong pemerintah  membentuk Gugus Tugas Khusus yang bertugas dan bertanggungjawab menggelar toleransi dan menggalakkan deradikalisasi untuk menangkal gejala intoleransi dan radikalisme.

“Kami mendukung program vaksinasi Covid-19 secara cuma-cuma (tanpa dipungut biaya apapun) bagi seluruh bangsa Indonesia secara adil dan pecah sebagai upaya penanggulangan pandemi Covid-19 agar seluruh aspek kehidupan kelompok dapat sesegera mungkin beradaptasi secara kebiasaan baru sesuai protokol kesehatan, ” kata dia.

“Kami mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan aparat penegak hukum yang lain untuk mengawasi proses penyediaan vaksin dan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 supaya transparan dan dapat dipertanggungjawabkan jadi menghindari potensi kerugian keuangan negara, ” ujarnya menambahkan.

Alumni Untuk Indonesia terdiri 24 institusi yakni Alumni USU, Parahyangan Leadership Institute-YKPI, ITB, Unpad, KAMIPB, Sriwijaya Rantauan, UNS, KAAITS Unair, Undip, Trisakti, Unibraw, Jerman & Diaspora, UGM, Untar, SLTA, PL, Menteng 64, UKI, UNILA Lampung, UI, Amerika, Al Azhar Cairo, Mesir dan IAIN.

“Pernyataan itu diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan diakhiri dengan Bagimu Negeri. Demikian pernyataan sikap kami Alumni Untuk Indonesia. Salam Pancasila, NKRI, Toleransi dan Ibu Pertiwi, ” kata Bilmar dan Denni.