AS khawatir TikTok mampu dipakai mengintervensi pemilihan presiden November mendatang

REPUBLIKA. CO. ID, BEIJING — Pemerintah China mengatakan sikap Amerika Serikat (AS) melakukan kritik keamanan terhadap aplikasi berbagi video TikTok melanggar prinsip-prinsip Organisasi Perniagaan Dunia (WTO). Sekelompok senator GANDAR sebelumnya mengkhawatirkan TikTok dapat digunakan untuk mengintervensi pemilihan presiden di dalam November mendatang.

Ujung bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China Wang Wenbin mengungkapkan negaranya selalu meminta perusahaan-perusahaan mematuhi hukum serta peraturan ketika melakukan bisnis dengan negara lain. Oleh pokok itu, dia mengisyaratkan cukup menyayangkan apa yang dilakukan AS kepada TikTok.

“Tanpa data, AS mengancam perusahaan China bersandarkan anggapan bersalah, mengungkapkan kemunafikannya di apa yang disebut ‘menjunjung mulia keadilan dan kebebasan’.   Ini melanggar prinsip-prinsip WTO tentang keterbukaan, transparansi dan non-diskriminasi, dan tersebut tidak melayani kepentingan rakyat serta perusahaan Amerika, ” kata Wang pada Kamis (30/7) dikutip laman resmi Kemlu China.

Wang menekankan, pemerintah dan media dari beberapa negara telah menetapkan seharusnya tidak ada standar ganda dalam hal media sosial. Menurutnya, perangkat lunak dan aplikasi pokok negaranya memenuhi kebutuhan dan suruhan pasar orang-orang, memberikan pilihan yang beragam, dan membantu pasar media sosial di semua negara lahir secara sehat.

Dia meminta AS memperhatikan suara-suara daripada komunitas internasional. Selain itu, Washington diminta memberikan lingkungan pasar yang terbuka, adil, dan tidak diskriminatif untuk entitas dari semua negeri, termasuk China. “Berhenti mempolitisasi perkara perdagangan dan ekonomi. Ini menyatu citra dan kredibilitas AS, ” ujar Wang.

Dalam Selasa (28/7) lalu, sekelompok senator dari Partai Republik AS mengirim surat bersama ke Kantor Penasihat Intelijen Nasional (ODHI), Plt Menteri Departemen Keamanan Dalam Negeri Chad Wolf, dan Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) Christopher A. Wray. Dalam surat itu, mereka mengutarakan kekhawatiran bahwa TikTok dapat digunakan Pemerintah China untuk mengintervensi jalannya pemilihan presiden AS pada November mendatang.

“Kami betul khawatir (Partai Komunis China) dapat menggunakan kontrolnya atas TikTok buat mengubah atau memanipulasi percakapan (politik) untuk menabur perselisihan di antara karakter Amerika serta untuk mencapai hasil politik yang disukai, ” sirih mereka dalam suratnya.

Para senator menyinggung tentang penyensoran yang dilakukan TikTok atas konten-konten sensitif di dalam platformnya. Misalnya, gambar yang mengkritik perlakuan China terhadap etnis Uighur dan upaya Beijing memanipulasi diskusi politik pada penerapan media sosial.

Pada surat tersebut, mereka pun bertanya apakah China dapat memperkuat pandangan politik tertentu dan melakukan operasi pengaruh melalui aplikasi yang dimiliki Beijing ByteDance Technology Co itu. “Jika bukti intervensi Partai Komunis China melalui TikTok muncul, apakah ByteDance layak untuk disanksi? ” kata mereka.

Surat itu ditulis oleh  Marco Rubio, Tom Cotton, Ted Cruz, Joni Ernst Thom Tilis, Kevin Cramer, dan Rick Scott. Seorang pejabat ODHI mengonfirmasi tentang dikirimnya tulisan tersebut. Ia mengatakan ODHI mau mengambil respons yang sesuai. Sementara FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri belum memberikan komentar.

Hubungan China dan AS memang tengah memanas. Kedua negara baru saja melakukan aksi silih balas menutup konsulatnya masing-masing pada negaranya. Pekan lalu AS menguncup Konsulat Jenderal China di Houston. China kemudian membalas langkah tersebut dengan menutup Konsulat Jenderal AS di Chengdu pada awal pekan ini.

sumber: Reuters