Para ulama berbeda prinsip menyikapi hukum main remi atau domino.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA— Permainan kartu remi dan Domino taka sing teristimewa di masyarakat Indonesia, bahkan negeri. Permainan ini, biasanya dimainkan karakter dewasa. Bagaimanakah hukum permainan itu?

Dikutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Erwandi Tarmizi, para-para ulama sepakat bahwa permainan tersebut haram hukumnya bila disertai judi, baik dalam bentuk uang dengan dibayar pihak yang kalah, maupun sanksi immateri.

Dan para ulama selalu sepakat bahwa permainan ini haram hukumnya bila melalaikan seseorang dibanding melakukan kewajiban.

Dan ulama juga sepakat bahwa permainan ini haram hukumnya bila pemenangnya menerima hadiah dari panitia penyelenggara sekalipun berasal dibanding pihak sponsor.

Bila tidak mengandung judi, tidak melalaikan dari hal-hal yang wajib dan pemenangnya tidak diberi hadiah oleh pihak manapun maka para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya.

Pendapat pertama, sebagian ulama mutakhir membolehkan permainan ini. Para ulama ini berdalil bahwa pada dasarnya seluruh sesuatu hukumnya boleh.

Pendapat kedua, mayoritas para ulama mengharamkan dua macam permainan ini.

Dengan dalil qiyas terhadap permainan dadu. Di mana unsur nasib-nasiban dalam dua permainan itu sangat dominan dibandingkan unsur berfikir. Maka sebagaimana permainan dadu diharamkan begitu juga haram bermain surat Remi dan Domino (Al-Musabaqat wa Ahkamuha fisy Syariah).

lbnu Hajar Al-Haitamy (wafat: 973 H) berkata, “Permainan dadu diharamkan karena asasnya merupakan untung-untungan (spekulasi) tanpa ada perkiraan dan olah pikir. Ar Rafi’i (wafat: 623H) berkata, “Dapat diqiyaskan dengan permainan dadu seluruh permainan yang berasaskan untung-untungan, maka seluruh permainan yang berasaskan untung-untungan hukumnya haram. ” (Nihayat al-Muhtaj).

Wallahu a’lam, pendapat yang mengharamkan sangatlah berpengaruh karena hukum asal permainan dilarang kecuali yang mendatangkan manfaat untuk olah raga atau olah fikir, berdasarkan sabda Nabi SAW:

كُلُّ مَا يَلْهُو بِهِ الرَّجُلُ المُسْلِمُ بَاطِلٌ ، إِلَّا رَمْيَهُ بِقَوْسِهِ ، وَتَأْدِيبَهُ فَرَسَهُ ، وَمُلَاعَبَتَهُ أَهْلَهُ   

“Segala hal permainan adalah terbuang, kecuali permainan memanah, melatih sado, bercanda dengan anak dan pedusi, maka hal itu tidak termasuk hal yang batil (HR Ahmad).