Umat Islam harus waspada tapi harus tetap sabar menghadapi Islamophobia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Budayawan dan politisi senior Ridwan Saidi mengatakan umat Muslim Indonesia jangan terpancing dengan situasi munculnya berbagas aksi kekerasan kepada ulama dan fasilitas Islam di sejumah daerah pada akhir September ini. Hadapilah dengan hati jernih dan kepala dingin. Sadarilah bahwa sikap itu akan selalu ada bahkan tak bisa hillang karena sudah mengendap selama ratusan tahun dan ditanamkan dari generasi ke generasi.

‘’Okeylah ada kepentingan ini-itu atau ada yang mencoba memanfaatkan dari segi politik. Tapi jangan terlalu jauh berpikirnya. Islamohobia seperti ini di Indonesia (Nusantara) sudah berlangsung sangat lama. Istilahnya sudah menjadi penyakit turunan yang kagak ada obatnya. Jadi cutup waspada saja, tahan diri, sabar. Kagak use mare-mare (tidak usah marah-marah),’’ kataya Ridwan Saidi dalam percapakan di kediamannya Sabtu (2/9)  lalu di Jakarta.

Ridwan mengatakan, jadi kalau misalnya hanya dikaitkan dengan bulan September dan peristiwa peringatan G30 SPKI itu juga tak terlalu tepat. Sebab, tak hanya itu yang menjadi pemicunya, tapi sudah bersifat laten karena dilakukan sepanjang sejarah eksistensi Islam di Indonesia. 

‘’Saya lihat ini karena Islam bisa begitu mendominasi di kawasan Nusantara dari dahulu. Ini jelas membuat iri banyak pihak. Kekuatan ekonomi Islam menguasi kawasan Nusantara hingga abad ke XVI M dan kekuatan ekonomi Islam berkuasa hingga munculnya kongsi dagang VOC Belanda. Kala itu eksistensi para sultan di seluruh wilayah yang kini bernama Indonesia sangat luar biasa. Bahkan merekalah sejatinya pendukung utama dari eksistensi dan kemerdekaan negara yang kini disebut dengan Indonesia,’’ tegasnya.

Harus diakui pula, lanjut Ridwan, rasa cemburu dan curiga kepada kekuatan Islam di Indonesia makin eksis ketika penjajah datang. Dan makin mutlak berkuasa setelah meletusnya perang Diponegoro.

”Meski begitu perlawanan terus terjadi oleh para tokoh Islam. Mulai dari Kiai Ahmad Rifa’i di Pekalongan, para haji dan kiai pengikut tarikat di Banten (Pemberontakan Petani Banten), Entong Gendut di Betawi, hingga Iman Bonjol di Sumatra Barat dan para ulama di Perang Aceh di akhir dan awal abad ke 20, terus diakukan. Bahkan ini terjadi hingga muncuknya Sarekat Islam dan organisasi moderen lainnya. Adanya ini semua memang terbukti bahwa Islamophobia itu bergenerasi dalam wujudnya di Indonesia. Kalau soal terkait PKI itu hanya satu dari sekian begitu titik sejarah saja jadi tak signifikan sebagai sebab utama,” katanya.

Menyadari itu, tegas Ridwan yang mantan Ketua Umum PB HMI dan anggota DPR dari Partai Islam berlambang Ka’bah di masa Orde Baru, maka mat Islam Indonesia tak perlu ‘kebakaran jenggot’. “Sekali lagi waspada boleh karena itu kenyataanya. Tapi itu harus dilandasi akal sehat dan sabar. Tokh ternyata, meski ada sikap laten Islamophobia itu, di masyarakat kita cahaya Islam tetap tak bisa dihapuskan bakan makin eksis,’’  ujar Ridwan sembari memperlihatkan foto dokumentasinya yang berisi keabkraban secara pribadi tokoh Islam semacam KH Isha Anshari dengan tokoh utama PKI DN Aidit.

”Nih foto memperlihatkan bahwa tokoh Islam dahulu canggih. Lihat Pak Isa Anshari masih bisa ngopi bareng DN Aidit di kantin DPR yang kala itu gedungnya masih di sekitar kawasan Lapangan Banteng. Padahal mereka barus aja ‘bertikam kata’ (berdebat) sangat keras dalam rapat. Maka kita ini sekarang harus bisa melihat suasana dengan cerdas,” katanya.