Pertanian terbukti menjadi sektor yang memutar mampu bertahan saat pandemi Covid-19

REPUBLIKA. CO. ID, SUKABUMI–Pertanian merupakan salah satu sektor yang berpotensi besar terhadap perekonomian masyarakat Kabupaten Sukabumi. Sebagai salah satu daerah penghasil pangan, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, berharap agar akselerasi pertanian di wilayah yang terletak dibagian selatan Jawa Barat ini dapat digarap dari hulu hingga hilir.

“Pertanian terbukti menjadi zona yang paling mampu bertahan pada tengah pandemi covid 19, dan saya harap kinerja ini bisa memperkuat akselerasi pertanian dari desa hingga hilir, sejauh ini ketahanan pangan di Sukabumi cukup meyakinkan cukup baik, hanya akselerasinya dengan harus kita terus bangun & jaga, ” kata Syahrul di keterangan resminya, Senin (12/10).

Syahrul meminta petani Sukabumi dapat mengembangkan daya taninya secara komprehensif dari penanaman (on farm) hingga pengolahan serta pemasaran ( off farm ). Hal ini sekali lalu sebagai upaya dalam menghasilkan keluaran yang mempunyai nilai tambah sehingga berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani di wilayah tersebut.

“Saya harus pastikan proses korporasi dari on farm had off farm diberbagai wilayah terkoneksi secara kuat, kita tidak mau petani sudah lelah menanam, kemudian tidak tahu siapa yang harus menggunakan, siapa yang harus membeli, ” ujarnya.

Ia mengatakan, persoalan pangan ialah persoalan yang perlu dikerjakan dengan bersama-sama, “Kita harus sama semrawut sama kerja dilapangan, ada pemda, kelompok tani, kementerian, BUMN dalam hal ini Bulog, semua kudu sinergi untuk kesejahteraan petani” katanya.

Sebagai informasi, Sukabumi tercatat memiliki merata lahan baku sawah 56. 782 hektar (ha), yang sebagian tumbuh lahannya ditanami komoditas tanaman bertabur seperti padi, jagung dan kedelai. Dari luas panen padi pada Sukabumi yang mencapai 93. 378 ha pada tahun 2019, daerah ini mampu memproduksi padi maka 468. 764 ton GKG ataupun setara 268. 930 ton padi.

Masa ini Kementerian Pertanian tengah melacak produksi pangan terutama beras melalui 5, 8 juta ha lahan yang  ditanami pada musim menanam II tahun ini. Syahrul memasukkan, proses produksi yang berjalan tersebut membutuhkan penyerapan produksi beras secara masif, hal ini penting agar kestabilan harga selama masa pengetaman tetap terjaga dan kesejahteraan petani meningkat.