Masjid tertua di Polandia itu direnovasi dengan bantuan dana publik.

REPUBLIKA. CO. ID,   WARSAWA — Masjid tertua di Polandia telah direnovasi dengan bantuan sedekah publik. Masjid tersebut berasal sebab abad ke-18 dan masih dimanfaatkan oleh komunitas Muslim Tatar yang berusia 600 tahun.

Masjid berbentuk sebuah bangunan kayu itu terletak di tempat Kruszyniany di timur laut Polandia. Desa ini adalah bagian sebab daerah yang berbatasan dengan Lituania dan Belarusia yang telah menjadi rumah bagi komunitas Tatar Lipka sejak abad ke-14.

Hal tersebut menjadikannya salah satu komunitas Muslim tertua dengan terus ada di Eropa.   Catatan menunjukkan, masjid sebelumnya di situs yang sama di Kruszyniany pada awal 1717.

Usia pasti dari bangunan saat ini tidak diketahui, tetapi kemungkinan besar dibangun pada paruh kedua abad ke-18.   Seperti masjid lain di desa terdekat Bohoniki, masjid itu dibangun dengan gaya khas yang mengingatkan pada gereja semak setempat.

Bangunan masjid itu diakui sebagai monumen bersejarah resmi oleh Polandia pada 2012.   Tahun itu, kantor konservasi monumen di Daerah Podlasie di mana masjid tersebut berada, memberikan hibah 80 seperseribu zloty (18 ribu pound) untuk merenovasi bagian interiornya.

Onet melaporkan, pekerjaan yang baru sekadar selesai antara lain peletakan lantai baru di mushala pria, penguatan ambang jendela di dinding partisi antara mushola pria dan perempuan, dan tambahan penopang untuk dasar mezanin.

Konservator monumen buat Podlasie, Małgorzata Dajnowicz, mengatakan tahun lalu bantuan lain sebesar 90 ribu zloty dari sumber yang serupa diberikan untuk merenovasi pagar mizar (kuburan) masjid.

“Bangunan itu adalah contoh unik dari rancang bangun kayu suci Islam di negara itu, dan berfungsi hingga hari ini, ” kata Dajnowicz kepada Gazeta Wyborcza , dilansir di Notes From Poland , Selasa (22/12).

Yayasan Masyarakat Budaya Tatar, yang bekerja mempromosikan warisan komunitas tersebut, memuji pekerjaan renovasi jadi langkah yang sangat penting untuk menjaga tempat yang penting bagi leluhur dan anak dan cucu mereka.

Menurut Zabytek. pl , sebuah situs yang dijalankan sebuah badan negeri Dewan Warisan Nasional Polandia, langgar tersebut kemungkinan besar awalnya dibangun dengan dana yang disediakan oleh Krzeczowskis, salah satu keluarga Tatar terkaya di wilayah tersebut, yang memiliki kampung Kruszyniany, Gorka dan Luzany.

Selama Perang Dunia Kedua, masjid tersebut disita oleh penjajah Jerman dan digunakan sebagai rumah rendah lapangan. Peralatan dan perlengkapan berharga di dalamnya dicuri. Namun, setelah perang, Muslim Polandia kembali menggunakan bangunan tersebut.

Pada 2008, masjid itu dilengkapi dengan pola keamanan yang didanai oleh Departemen Kebudayaan dan Warisan Nasional. Langgar tersebut juga menerima kunjungan Pangeran Charles dari Inggris pada 2010, ketika dia diajak berkeliling oleh Mufti Tomasz Miskiewicz.

Di 2014, masjid tersebut dirusak selama Ramadhan. Seekor babi digambar di dinding luar dan gambar-gambar maujud lainnya disemprotkan ke kuburan dalam pemakaman. Konservator monumen setempat lekas turun tangan untuk membersihkan kebobrokan itu.

Komunitas Lipka Tatar di Polandia telah berkurang ukurannya selama berabad-abad. Komunitas ini dengan historis melayani negara dalam bervariasi perang, termasuk sebagai bagian sejak pasukan Raja John III Sobieski yang mengalahkan Kekaisaran Ottoman di dalam Pertempuran Wina. Saat ini, total mereka berada di antara beberapa dupa dan beberapa ribu, tergantung di dalam definisi dan perkiraan yang bertentangan.

Menurut perkiraan MZR (Persatuan Agama Muslim di Polandia), Muslim di Polandia berjumlah antara 20 ribu-25 ribu. Mayoritas Muslim dalam Polandia bukan berasal dari Lipka Tatar.

Sebagian besar ialah pendatang baru. Polandia saat ini merasai tingkat imigrasi yang belum sudah terjadi sebelumnya dalam sejarahnya.

Awal tahun ini, MZR mengeluarkan portal baru berbahasa Polandia untuk menyediakan sumber daya pendidikan online tentang Islam dan untuk menantang stereotip umum tentang komunitas Muslim.

Sikap anti-Muslim yang dipicu khususnya selama krisis pengungsi 2015, tetap dikembangkan oleh partai Hukum & Keadilan (PiS) yang berkuasa. Di 2019, ketua PiS dan atasan de facto Polandia, Jaroslaw Kaczynski, menggambarkan Islam sebagai serangan adat yang menyebabkan Eropa harus menegakkan diri.

https://notesfrompoland.com/2020/12/21/polands-oldest-mosque-renovated-with-public-funds/