Korea Selatan telah berjuang untuk meningkatkan upaya imunisasinya.

REPUBLIKA.CO.ID,SEOUL — Pemerintah Korea Selatan (Korsel) telah diinformasikan oleh perusahaan Moderna (MRNA.O) tentang masalah produksi vaksin COVID-19. Padahal Korsel tengah memperluas kampanye vaksin untuk orang berusia 55-59 tahun di tengah gelombang infeksi keempat. 

Moderna tidak secara jelas menginformasikan masalah produksinya, termasuk berapa banyak dan lama pengiriman yang akan terpengaruh dan apakah negara lain akan terpengaruh oleh masalah tersebut. Moderna bahkan tidak segera membalas permintaan komentar dari Reuters

“Moderna telah menginformasikan bahwa mereka memiliki masalah produksi,” kata pejabat kesehatan Korsel Park Jin-young dilansir dari Reuters pada Senin (26/7).

Park menambahkan bahwa konsultasi sedang diadakan untuk mengetahui rinciannya. “Kami mengerahkan semua kemampuan administratif dan diplomatik yang tersedia untuk menetapkan fakta dan menyusun tindakan balasan,” kata Park. 

Korea Selatan telah berjuang untuk meningkatkan upaya imunisasinya di tengah kekurangan pasokan dan penundaan pengiriman, dengan sekitar 33% dari 52 juta penduduknya telah menerima setidaknya satu dosis dan 13% divaksinasi penuh. Sekitar 6,17 juta orang, atau 84% dari mereka yang berusia 50-an, telah mendaftar untuk vaksinasi minggu ini. Pihak berwenang telah beralih ke produk Pfizer (PFE.N)/BioNTech (22UAy.DE) dari Moderna untuk beberapa orang dalam grup karena keterlambatan pengiriman. 

Sementara itu, Direktur Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korsel (KDCA) Jeong Eun-kyeong menyampaikan masalah produksi Moderna tidak akan mempengaruhi total volume pengiriman yang direncanakan untuk bulan ini. Sayangnya ia tak memberikan angka spesifik. 

Korea Selatan memiliki kontrak untuk 40 juta dosis vaksin Moderna, dimana sekitar 1,1 juta telah tiba sejauh ini. Peluncuran vaksin untuk orang-orang berusia di atas 50-an telah terhenti selama seminggu bulan ini setelah rekor jumlah kasus baru yang tinggi memicu serbuan untuk mendapatkan suntikan hingga menghabiskan persediaan yang tersedia dan merusak situs web reservasi resmi. 

Pengujian dan pelacakan massal telah membantu Korsel mengalami tingkat kematian COVID-19 yang lebih rendah daripada negara maju lainnya sejauh ini tanpa penguncian penuh. Tetapi gelombang infeksi baru mendorong pemerintah pada Ahad (25/7) untuk memperketat aturan jarak sosial di sebagian besar negara minggu ini untuk hentikan transmisi di liburan musim panas. 

KDCA melaporkan 1.318 kasus virus corona baru pada Ahad (25/7). Sehingga total infeksi menjadi 190.166, dengan 2.077 kematian.