Korban tersangka eksploitasi seksual anak pokok Prancis diduga mencapai 305 orang.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Polda Metro Jaya sudah mengindentifikasi 17 dari 305 budak yang menjadi korban eksploitas seksual warga negara asing asal Prancis bernama Francois Abello Camille (FAC) alias Frans (65 tahun). Tak hanya melakukan pelecehan seksual, Frans diduga kerap merekam aksinya.  

Kabid Humas Polda Metro Hebat Kombes Yusri Yunus mengatakan, kepolisian masih terus menyelidiki kasus itu. “Sejauh ini kita sudah identifikasi 17 korban anak di lembah umur, ” kata Yusri, Kamis (9/7).

Polda Metro Jaya mengungkap kasus eksploitasi seksi anak di bawah umur yang dilakukan oleh warga negara aneh (WNA) asal Prancis bernama Francois Abello Camille (FAC) alias Frans (65). Polda Metro Jaya menuturkan korban FAC mencapai 305 karakter yang semuanya di bawah sempurna.

Jumlah korban itu diketahui setelah polisi memeriksa laptop milik tersangka dan menemukan ratusan video saat tersangka melecehkan korbannya. “305 orang ini berdasarkan data video yang ada di laptop dalam bentuk film, ” sebutan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana.

Polisi menduga setiap berpose, Frans selalu merekam aksinya secara menggunakan kamera tersembunyi yang ditempatkan di kamar hotel yang digunakan. “Ada (kamera) video tersembunyi simpulan simpan di kamar tersebut kala tersangka melakukan aksinya, ” logat Nana.  

Pengungkapan itu bermula dari adanya fakta mengenai kasus eksploitasi seksual bujang di bawah umur pada sebuah hotel di Tamansari, Jakarta. Petugas kemudian menyelidiki informasi itu serta mendapati Frans tengah bersama besar anak perempuan.

Berdasarkan pemeriksaan awal, Frans diduga mengarahkan aksinya di tiga hotel bertentangan pada kurun waktu Desember 2019 sampai Juni 2020. Tersangka berusia 65 tahun itu kerap berpindah-pindah hotel di wilayah Jakarta Barat untuk melancarkan aksinya. Namun, penjaga menduga tersangka sudah menjalankan aksinya jauh sebelum itu.

Menurut Nana, anak-anak di lembah umur yang menjadi korban di kasus ini merupakan anak jalanan. Modus yang dilakukan tersangka, yaitu mencari anak-anak dan menawarkan itu pekerjaan sebagai foto model.  

Tetapi, tersangka justru melecehkan mereka secara seksual. Sebelum melakukan hubungan erotis dengan para korbannya, tersangka mendandani korbannya dengan berbagai kostum. Selain itu, tersangka juga merekam kegiatan pelecehan seksual tersebut.  

Setelah menyetubuhi anak-anak itu, tersangka memberikan imbalan uang sejumlah Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta. Tak jarang, simpulan juga melakukan kekerasan terhadap budak yang menolak melakukan hubungan seksual dengannya.

“Yang tidak mau disetubuhi ditempeleng dan ditendang, ” tutur Nana.

Polisi pun mengamankan sejumlah barang bukti berupa. Di antaranya 21 seragam yang dipakai korban untuk penjepretan dan pembuatan video cabul, satu unit laptop, enam memory card, 20 kondom, dan dua buah vibrator.