Ida khawatir dengan mertua dan suami yang punya komorbid terkait asimilasi.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Penyintas Covid-19 Ida Susanti (43 tahun) mengaku sempat dilanda kewaswasan karena takut menularkan ke anak saat isolasi mandiri di rumah. Peneliti aktif di Pusat Pengkajian dan Pengembangan (Puslitbang) Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan di Institusi Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Balitbang Kemenkes) ini tinggal bersama suami, mertua, dan anak.  

Mertuanya memiliki penyakit penyerta atau komorbid. “Yang pertama di pikiran saya, saya takut sekali menularkan ke orang-orang terutama ke keluarga saya, ” kata Ida dalam seminar virtual Penyintas Covid-19 Bicara yang diadakan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Departemen Kesehatan Republik Indonesia, di Jakarta, Ahad (27/9).

Ida mengaku mulai merasa demam dengan tidak terlalu tinggi pada 4 Agustus 2020. Dia berpikir masa itu hanya masuk angin jadi mengonsumsi obat dari warung.

Pada hari-hari berikutnya di kantor, ada seorang rekan kerjanya yang positif Covid-19 sehingga Balitbang Kemenkes pun melakukan pelacakan relasi. Pada 8 Agustus dilakukan tes usap pada Ida dan seluruh pegawai yang pernah melakukan relasi dengan positif Covid-19 itu.

Ida mendapat hasil meyakinkan Covid-19. Ida dilanda kekhawatiran & tidak ingin ada anggota tim yang tinggal bersama dia tersentuh Covid-19.

“Yang terbayang pertama kali adalah mertua yang ada di rumah dua karakter punya komorbid terkait pernapasan, begitu juga suami saya, ” katanya lagi.

Pada 12 Agustus 2020, Puslitbang Biomedis & Teknologi Dasar Kesehatan di Balitbang Kemenkes berkoordinasi ke dinas kesehatan tubuh di daerah Ida tinggal. Sesudah itu, puskesmas setempat langsung menghubungi Ida memberikan arahan seperti vitamin yang harus diminum dan makanan yang harus dikonsumsi.  

Puskesmas juga memberikan obat. Keluarga Ida juga mendapat kit pencegahan yang berisi masker, hand sanitizer dan vitamin C.

Ida ingin melindungi keluarganya agar tidak tertular COVID-19. Pada saat itu, kebijakan dinas kesehatan setempat adalah orang yang tanpa petunjuk (OTG) harus isolasi di panti.

Ida hanya merasakan ada lendir kental atau mukus di belakang tenggorokan. Ida tak merasakan gejala lain, seperti penuh, batuk, dan pilek.

“Saya berusaha untuk kalau mampu saya keluar untuk mencari tempat isolasi di rumah sakit, namun saat itu kebijakan dinas yang OTG harus isolasi di panti, ” ujarnya.

Dia menuturkan, jika harus mencarikan wadah lain untuk bisa isolasi mandiri maka yang menjadi masalah kemudian adalah ketersediaan dana yang dibutuhkan. Misalnya, menyewa tempat karena juga tidak tahu sampai kapan harus isolasi diri.

“Jika itu terjadi pada mertua aku, suami saya, anak saya, itu jadi pikiran terus menerus kita pikirkan, sehingga itu jadi stressing   tersendiri, malamnya jadi insomnia, ditambah bayangan stigma masyarakat, ” katanya pula.

Akhirnya, dengan dibantu tim, orang tua dapat mengungsi sementara, sementara yang tinggal di rumah adalah Ida, suami dan anak-anak. Ida tidur di kamar terpisah lantaran suami dan anak-anak. Toilet yang digunakan bersama selalu didekontaminasi.

“Selama dua minggu, beta benar-benar berada di kamar melangsungkan isolasi mandiri, ” ujarnya lagi.

Pada 17 Agustus dan 19 Agustus 2020 dilakukan uji usap di puskesmas serta hasilnya negatif. Akhirnya, Ida dinyatakan sembuh dari Covid-19 setelah buatan uji usap berturut-turut dua kali negatif.

sumber: Antara