Pencapaian pada atas target tersebut sebab pelaksanaan operation excellence

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA– PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) mencatatkan produksi setara listrik atau electric volume produce Geothermal sebesar 4. 618, 27 GWh sepanjang 2020. Adapun realisasi ini tumbuh 14 persen dari target yang telah ditetapkan pada 2020 sebesar 4. 044, 88 GWh.  

Direktur Utama PGE Ahmad Yuniarto mengatakan pencapaian di atas target tersebut sebab pelaksanaan operation excellence yang didukung implementasi Geothermal Integrated Management System. Pencapaian PGE menyumbangkan 31 persen buatan geothermal nasional 2020 yang ditetapkan Kementerian ESDM sebesar 14. 774 Giga Watt Hour (GWh).

“PGE terus berkomitmen untuk meningkatkan Energi Hangat Terbarukan (EBT) dalam bauran energi (energy mix) nasional menjadi 23 persen di 2025 pada sektor panas bumi dengan strategi usaha yang terukur untuk menjelma World Class Green Energy Company. Ke depannya  PGE menargetkan untuk mengoperasikan PLTP dengan kapasitas own operation 1, 3 Gigawatt (GW) pada 2030, ” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (10/5).

Yuniarto merinci Area Geothermal (AG) Kamojang mencatat buatan setara listrik sebesar 1. 650 GWh atau bertambah tinggi 13 persen lantaran target RKAP 2020 sejumlah 1. 454 Gwh. AG Lahendong mencatat produksi sepadan listrik sebesar 828 GWh atau lebih tinggi 10 persen dari target sebesar 754 GWh.

Kemudian, AG Ulubelu mencatat produksi setara elektrik sebesar 1. 613 GWh atau lebih tinggi 21 persen dari target sejumlah 1. 335 GWh. Berantakan, AG Lumut Balai mencetak produksi setara listrik sejumlah 442 GWh atau bertambah tinggi 12 persen dibanding target sebesar 395 GWh.

“Selain menjaga pasokan listrik sebab pembangkit yang telah dioperasikan, PGE juga melakukan kupasan dalam rangka meningkatkan kapasitas terpasang panas bumi untuk pembangkitan energi listrik dari wilayah operasi eksisting. Mengenai area yang menjadi fokus awal dalam kajian tersebut adalah Area Ulubelu (Lampung) dan Area Lahendong (Sulawesi Utara), ” katanya.

Menurutnya era ini PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Dunia, di dalam wilayah kerja tersebut telah terbangkitkan listrik panas bumi sebesar 1877 MW, terdiri dari 672 MW yang dioperasikan sendiri (own operation) oleh PGE & 1205 MW dikelola melalui kontrak operasi bersama.

“Kapasitas terpasang panas bumi di Wilayah Kerja PGE tersebut berkontribusi sekitar 88 persen sebab total kapasitas terpasang radang bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sekitar 9, 5 juta ton CO2 per tarikh, ” ucapnya.

Yuniarto menyebut penghematan juga merupakan salah satu pokok dalam menghadapi tantangan pandemi Covid-19 di sepanjang 2020, dari anggaran biaya operasional yang sudah direncanakan, PGE dapat melakukan efisiensi ongkos operasi sebesar sembilan komisi. PGE juga mendukung strategi pemerintah dalam me-utilisasi produk-produk dalam negeri. “Untuk penerapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) PGE telah menerapkan Pemanfaatan TKDN sebesar 63, 39 persen melebihi tumpuan yang telah direncanakan 2020 sebesar 25 persen, ” ucapnya.