Pelaku menggunakan akun palsu menganjurkan berbagai jenis satwa yang dilindungi.

REPUBLIKA. CO. ID,   AGAM — Tim Balai Pelestarian Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama Satreskrim Polres Agam melakukan interpretasi terhadap pelaku jual beli satwa yang dilindungi di Pasar Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam pasar ini. Satwa dilindungi ini djual melalui media sosial Facebook.

Pengurus Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam, Ade Putra, mengatakan pelaku menjual satwa dilindungi jenis burung Tiong emas (Gracula religiosa) atau Beo Mentawai sebanyak 1 ekor serta burung jenis Nuri Kalung Ungu (Eos squamata) sebanyak 1 ekor. “Pelaku diamankan ketika sedang melayani transaksi jual beli, ” cakap Ade, kepada Republika , Sabtu (19/7).

Ade menyebut pengungkapan ini berawal dari maraknya perniagaan satwa dilindungi di media sosial. Pelaku dalam modusnya menggunakan akun palsu menawarkan berbagai jenis hewan yang dilindungi.  

Pelaku yang ditangkap pekan ini tersebut mengaku sudah melakukan jual beli satwa dilindungi sejak 2019 lalu. Pelaku memasang tarif beragam tergantung jenis satwa yang dia diperdagangkan.  

Patuh Ade, barang bukti berupa Menyerupai Mentawai dan Nuri Kalung Ungu yang diamankan kemarin bukan macam satwa endemik atau asli Pulau Sumatera. Burung Nuri kalung ungu habitat asalnya adalah dari wilayah Sulawesi, Maluku, dan daerah Nusantara bagian timur lainnya.  

Sedangkan Tiong Emas ataupun Beo Mentawai merupakan endemik asli Kepulauan Mentawai. Kendati demikian, karakter tetap dijerat dengan pasal 21 ayat 2 huruf a Menjemput Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi SDA hayati serta ekosistemnya.  

“Saat ini pelaku bersama barang bukti diamankan di Polres Agam untuk proses hukum lebih lanjut. Tim gabungan saat ini masih mengabulkan pengembangan untuk mengusut asal usul satwa diperoleh pelaku, ” ujar Ade.