Pertemuan tertutup digelar bersama BRIN, PT Mitra Natura dan DPRD Kota Bogor.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — DPRD Kota Bogor melakukan pertemuan tertutup dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Mitra Natura Raya (MNR) ke Kebun Raya Bogor (KRB), Senin (27/9). Pertemuan tersebut dilakukan menyambut adanya surat dari lima mantan Kepala Kebun Raya, terkait kritik rencana penyuguhan atraksi malam menggunakan lampu hias bernama GLOW.

Kritik tersebut disampaikan oleh lima mantan Kepala Kebun Raya. Yakni Made Sri Prana, Usep Soetisna, Suhirman, Dedy Darnaedi, serta Irawati. Tak hanya ditujukan untuk BRIN dan PT MNR, surat tersebut juga ditembuskan untuk Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, dan Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto.

General Manager Corporate Communication & Security PT MNR Kebun Raya Bogor, Zaenal Arifin mengatakan, pertemuan tersebut dilaksanakan Senin (27/9) siang di KRB. Serta dihadiri oleh pihak DPRD Kota Bogor, BRIN dan PT MNR. “Siang ini kita bertemu. Bersama pihak MNR, BRIN dan DPRD Kota Bogor,” ujar Zaenal kepada Republika.co.id melalui pesan singkat WhatsApp, Senin (27/9).

Pascapertemuan tersebut, Zaenal menyampaikan, pandangan DPRD Kota Bogor menjadi lebih objektif. Termasuk mempertanyakan kabar adanya pembangunan masif di KRB. “Namun DPRD Kota Bogor akan menyediakan ruang untuk menjelaskan kepada publik terkait berita yang beredar,” ujarnya.

Di samping menerima surat kritik tersebut, Zaenal mengatakan, KRB juga akan menggelar konferensi pers untuk menyampaikan keterangan lebih lanjut, terkait adanya kritik pembuatan GLOW ini. 

Diketahui, dalam surat resmi berjudul ‘Menjaga Marwah Kebun Raya’ itu, lima mantan Kepala Kebun Raya mengkritisi rencana atraksi sinar lampu di malam hari yang akan ditampilkan GLOW, berpotensi merubah keheningan malam KRB. 

“Nyala dan kilau lampu dikhawatirkan akan mengganggu kehidupan hewan dan serangga penyerbuk. Nature Communication melaporkan, penggunaan lampu berlebihan di waktu malam akan mengganggu perilaku dan fisiologi serangga penyerbuk, nokturnal maupun diurnal,” ujar mereka dalam salah satu poinnya.

Mereka pun mengkritisi jalan setapak yang tersusun oleh batu kali khas Kebun Raya Bogor, kini di banyak bagian telah dicor dengan semen. Tidak hanya mengurangi keindahan jalan batu gico, tapi juga mengurangi resapan air. 

“Memelihara ekohidrologi di Kebun Raya sangatlah penting, dan sudah lama dilakukan dengan mengurangi jumlah bangunan dan menggantinya dengan koleksi tumbuhan. Sesuai dengan Peraturan LIPI no. 4 th 2019 tentang Pembangunan Kebun Raya, batas luas maksimal pembangunan fisik (pengerasan lahan) di KRB adalah 20 persen dari luas total Kebun Raya,” jelasnya.

Selain itu, para mantan Kepala Kebun Raya juga menyampaikan, Kebun Raya mengusung lima tugas dan fungsi penting. Antara lain, konservasi tumbuhan, penelitian, pendidikan, wisata ilmiah, dan jasa lingkungan.

Apalagi, sambung mereka, KRB yang sudah berumur lebih dari dua abad dalam sejarah panjangnya, selalu mengedepankan pendekatan ilmiah dan memperhatikan masalah konservasi dan lingkungan. Dimana berbagai kegiatan dan usaha yang dilakukan Kebun Raya selalu mempertimbangkan kelima fungsi tersebut. 

“Saat melakukan kegiatan usaha penggalangan dana sekalipun, Kebun Raya tidak silau pada keuntungan sesaat, dan selalu memilih green business yang sifatnya enviriomentally friendly,” ucap mereka.