Taliban akan mengambil alih bandara Kabul usai 31 Agustus

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL — Amerika Serikat (AS) sudah dalam tahap akhir untuk meninggalkan Kabul. Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan bahwa kelompok itu akan mengambil alih bandara segera usai batas akhir 31 Agustus, Sabtu (29/8).

Pejabat Taliban mengatakan kelompok ini telah memiliki insinyur dan teknisi yang siap untuk mengambil alih bandara. “Kami menunggu persetujuan terakhir dari Amerika untuk mengamankan kendali penuh atas bandara Kabul karena kedua belah pihak bertujuan untuk penyerahan cepat,” kata pejabat yang tidak bersedia disebutkan namanya itu.

Sementara bandara Kabul dalam kekacauan, bagian kota lainnya secara umum tenang. Taliban telah mengatakan kepada penduduk untuk menyerahkan peralatan pemerintah termasuk senjata dan kendaraan dalam waktu seminggu.

Taliban pun akan mengumumkan kabinet penuh dalam beberapa hari mendatang. Mujahid mengatakan kelompok itu telah menunjuk gubernur dan kepala polisi di semua wilayah, kecuali satu dari 34 provinsi Afghanistan.

Kelompok yang menguasai Afganistan tersebut berjanji akan bertindak untuk memecahkan masalah ekonomi negara itu. Kelompok itu menghadapi kerugian miliaran dolar bantuan untuk negara itu dari AS dan negara-negara Barat lainnya.

Pasukan AS harus meninggalkan Kabul dan mengakhiri dua dekade keterlibatan di Afghanistan. Lebih dari 1.000 warga sipil di bandara masih harus diterbangkan sebelum pasukan ditarik.

Presiden AS Joe Biden mengatakan akan tetap pada tenggat waktu untuk menarik semua pasukan AS dari Afghanistan pada hari Selasa (31/8). “Kami ingin memastikan bahwa setiap warga sipil asing dan mereka yang berisiko dievakuasi hari ini. Pasukan akan mulai terbang setelah proses ini selesai,” kata pejabat yang ditempatkan di bandara.

Melalui kesepakatan dengan AS, Taliban mengatakan akan mengizinkan orang asing dan warga Afghanistan yang ingin pergi untuk terbang keluar. AS dan sekutunya telah membawa sekitar 113.500 orang keluar dari Afghanistan dalam dua minggu terakhir.

sumber : Reuters