IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Dalam konteks amal ibadah, orang ikhlas adalah orang yang beramal karena Allah semata, menghindari pujian dan perhatian makhluk, dan membersihkan amal dari setiap yang mencemarkannya.

Dalam buku berjudul “Menjalin Ikatan Cinta Allah Swt” terbitan Turos, sufi perempuan Aisyah al-Ba’uniyah mengutip perkataan Dzun Nun al-Mishri tentang keikhlasan. Dzun-Nun adalah seorang tokoh sufi besar di abad ketiga Hijriyah.

Dzun Nun berkata, “Ada tiga tanda keikhlasan: mendapatkan pujian dan celaan dari orang awam bernilai sama, tidak melihat amal perbuatan ketika melakukannya, dan mengharap pahala amal di akhirat saja.”

Sedangkan menurut riwayat dari Hudzaifah al-Mar’asyi, dia berkata, “Ikhlas adalah ketika perbuatan-perbuatan lahiriah dan batiniah serasi dan seimbang. Menurut Aisyah al-Ba’uniyah, hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan al-Qusyairi yang menyatakan,

“Ketulusan paling minimal adalah keseimbangan antara yang rahasia dan terang-terangan dari diri seseorang.”

Aisyah al-Ba’uniyah menjelaskan, perkataan kaum sufi tentang keikhlasan teramat banyak untuk dituliskan satu per satu. Karena itu, dalam bukunya ini, ia hanya mencantumkan sebagain saja dan itu sudah memadai bagi orang yang dikaruniai taufik oleh Allah Swt.

Aisyah sendiri berpendapat bahwa ikhlas adalah cahaya yang melenyapkan kegelapan yang dibawa nafsu dan setan. Menurut dia, amal adalah mata air, riya adalah penoda, sedangkan ikhlas merupakan rahasia dari rahasia-rahasia Allah yang akan menjernihkan noda kotoran itu.

“Demi Allah, orang yang menumpuk riya tidak akan memperoleh jatah bagian dari wangi mawar penerimaan Tuhan,” kata Aisyah al-Ba’uniyah.