Nasi buka luwur dibagikan ke rumah warga untuk menghindari antrean

REPUBLIKA. CO. ID, KUDUS – Tradisi pembagian nasi bekerja luwur di kompleks Menara dan Makam Sunan Kudus, Jawa Sedang, masih tetap dilakukan meskipun pandemi Covid-19.

“Tradisi buka luwur tahun ini melecehkan antrean untuk mendapatkan nasi aktif luwur menyusul masih dalam masa pandemi Covid-19. Gantinya dibagikan ke masing-masing kecamatan, ” kata Kepala Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus Muhammad Nadjib Hassan, Sabtu (29/8)

Ia mengungkapkan nasi buka luwur dengan dikenal dengan nasi uyah asem didistribusikan ke sejumlah daerah yang terdapat sumber mata air di sembilan kecamatan. Mereka, kata tempat, yang sebelumnya mengikuti kirab “banyu panguripan” beberapa waktu lalu untuk dibagikan kepada masyarakat.

Atas kondisi tersebut, dia berniat, pengertian masyarakat Kudus terkait dengan tidak adanya antrean di sekitar menara, mengingat masih dalam masa pandemi.

“Dengan pembagian ‘brekat’ (berkat) yang tersebar pada sembilan kecamatan dan tempat lainnya, kami harapkan hubungan baik kelompok Kudus terus terjaga, ” ujarnya.

Juru Bicara Panitia Buka Luwur Sunan Kudus Muhammad Kharis menambahkan dari total 27. 906 bungkus nasi buka luwur yang dibagikan, meliputi 26. 074 nasi bungkusan untuk masyarakat ijmal dan nasi buka luwur dengan berjumlah 1. 832 keranjang dikasih kepada tokoh masyarakat, kiai, penguasa, tamu undangan, pekerja, dan badan.

Tradisi buka luwur diselenggarakan setiap 10 Muharam ataupun pada Sabtu (29/8), merupakan ritus keagamaan untuk menandai penggantian kelambu di Makam Sunan Kudus.

Sementara tradisi buka luwur dengan membagi-bagikan nasi uyah asem sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam dan pembagian bungkus terbengkalai uyah asem disimbolkan sebagai ketenteraman masyarakat.

sumber: Antara