Kang Abik menekankan pentingnya dasar tauhid dalam karya seni.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA –  Penyebaran Covid-19 selama beberapa kamar terakhir di Indonesia telah membawa banyak dampak. Dari sisi seniman, tidak sedikit pelaku karya yang harus menahan diri untuk tak berkarya secara bersama-sama.    

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meniti Komisi Pembinaan Seni Budaya Agama islam (KPSBI) menggelar webinar internasional dan membahas topik ‘Bagaimana Seniman Muslim Membangun Strategi Kreatif di Sedang Pandemi’. Ketua Komisi KPSBI MUI, Habiburrahman El Shirazy, mengajak semesta seniman untuk terus menyebarkan ide-idenya.  

“Pembahasan tersebut berkaitan erat dengan kreativitas & dakwah. Saya teringat kalimat lantaran ulama besar juga pemikir Mesir, Syekh Muhammad Al Ghazali, ambillah inisiatif untuk menyampaikan ide, sebelum engkau diambil alih sebuah ide, ” ujar pria yang familier dipanggil Kang Abik ini dalam webinar internasional, Selasa (30/6).

Dia menjelaskan, ucapa Syekh Al Ghazali ini dimaksud di dalam hidup, manusia hanya memiliki besar pilihan. Apakah akan menjadi karakter yang kreatif dan menyampaikan ide-ide kebaikan, atau terpaksa mengikuti ide-ide orang lain.    

Bagi seniman Muslim, karya-karya yang dihasilkan harus selaras secara nilai-nilai tauhid. Hal ini ialah dasar atau asas dalam kecil Islam.    

Jika sebuah kesenian atau karya tidak selaras dengan tauhid, Termuda Abik menyebut hal tersebut mampu dipastikan tidak selaras dengan Islam. Perihal ini telah disepakati seluruh ulama, seniman Muslim dan filsuf Muslim.    

“Jika kita kreatif maka berbahagialah, karena kita diberi tauhid oleh Allah SWT. Kalau kita tidak kreatif, maka mau tidak mau kita akan dipaksa mengonsumsi ide-ide orang lain, ” lanjut Kang Abik.

Dia juga menyebut, ide-ide orang lain jika selaras dan bernafaskan Islam oleh sebab itu itu baik dan bisa diikuti. Namun, jika ide-ide yang tersedia bertentangan dengan Islam, maka kejadian ini menjadi masalah.  

Selanjutnya, dia menyebut sebuah tantangan bagi umat Muslim pada tengah pandemi untuk tetap berpendapat kreatif, menyalurkan ide-ide, dan men karya-karya lainnya.    

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pembinaan Seni Adat Islam, Dr KH Shodiqun, mengucapkan seniman Muslim akan terus tersedia hingga akhir zaman.  

Strategi dan upaya yang dilakukan seniman Muslim dalam melahirkan karya sembari membawa nafas Islam mau terus ada.  

“Strategi dibuat agar sebuah haluan atau pesan bisa tercapai dengan ujungnya menimbulkan efek. Seniman juga harus berpikir bagaimana agar sebuah pesan yang ingin disampaikan mampu tercapai ke khalayak luas, ” ujarnya.

Dia langsung menyebut seorang Muslim selama hidupnya tidak pernah tidak kreatif. Di dalam dirinya, ada kesemangatan untuk menghasilkan produk atau bangunan seni dengan berkeadaban maupun peradaban seni yang bisa memberikan makna.    

Seniman merupakan pejuang atau mujahid dengan medan berlaku yang berbeda. Substansi seni merupakan mujahid yang memiliki cita-cita pada setiap karyanya selalu diberi napas dengan kental akan al-haq atau fakta.    

“Tidak perlu membuat target khusus siapa yang mendengar atau menjadi konsumen dari sebuah karya seni. Seluruh orang adalah target dari karya seni yang bernafaskan kebajikan, ” lanjutnya.    

Seorang seniman Muslim, karya-karyanya disebut akan sarat dengan nafas aljamal atau keindahan. Keindahan yang ditawarkan itu dibatasi dengan etika.    

Kiai Shodiqun membicarakan seorang seniman dalam perspektif Islam, kehadirannya selalu menunjukkan nilai-nilai keadaban. Seni yang dibawakan memberi ukuran keadaban.    

Seni merupakan medium yang penting untuk menyampaikan nilai-nilai kebajikan. Tersedia banyak cara yang digunakan, mulai dari film, lagu, buku, puisi, hingga lukisan.  

Terakhir, dia menyebut dalam di setiap kondisi, seniman Muslim harus langgeng memikirkan strategi dan cara barang apa yang harus diambil untuk langgeng bisa menyampaikan nilai-nilai positif kepada khalayak luas.